Jumat, 26 Juni 2009

STRESSOR KERJA

Oleh : Nuzulia Avianto

Banyak faktor yang merupakan stressor kerja. Menurut Gibson dkk.(1996), ada empat macam stressor kerja , yaitu :
a. Stressor lingkungan fisik. Stressor ini sering disebut sebagai stressor kerah biru (blue-collar stressor) karena biasanya menjadi masalah bagi pekerjaan-pekerjaan kasar. Stressor kerja ini diantaranya adalah faktor cahaya, suara, suhu, dan udara yang terkena polusi.
b. Stressor individual. Stressor individual terdiri dari konflik peran, ambiguitas peran, beban kerja yang berlebihan, dan tanggungjawab pekerjaan. Konflik peran adalah stressor yang muncul dan akan semakin meningkat ketika seseorang menerima pesan-pesan yang tidak cocok berkenaan dengan perilaku yang sesuai, misalnya saja adanya tekanan untuk bergaul dengan orang-orang yang tidak sesuai dengan diri seseorang. Ambiguitas peran terjadi ketika tidak adanya pengetahuan seorang individu tentang hak, hak istimewa, dan kewajiban dari suatu pekerjaan. Beban kerja yang berlebihan bisa berupa beban kerja secara kuantitatif maupun kualitatif. Beban kerja yang bersifat kualitatif dirasakan individu ketika individu merasa tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan atau adanya tuntutan standar performansi kerja yang terlalu tinggi. Beban kerja yang bersifat kuantitatif adalah banyaknya sesuatu yang harus dikerjakan atau tidak cukupnya waktu yang diberikan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Tanggungjawab pekerjaan bisa menjadi beban kerja yang dapat menimbulkan stres kerja apabila tanggungjawab tersebut dirasakan terlalu besar bagi individu yang bersangkutan.
c. Stressor kelompok. Karakteristik kelompok dapat menjadi stressor yang kuat bagi individu-individu tertentu. Karakteristik kelompok yang mampu menjadi stressor antara lain adalah hubungan yang jelek antar anggota kelompok (antara atasan dengan bawahan maupun antar para bawahan) karena kurangnya kepercayaan antar anggota kelompok, rendahnya dukungan antar anggota kelompok, dan ketidakmampuan serta ketidakmauan anggota kelompok dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh anggota kelompok lainnya.
d. Stressor struktur organisasional. Hal-hal yang mengakibatkan kondisi emosional yang negatif adalah jeleknya struktur organisasi, misalnya struktur organisasi yang terlalu panjang (struktur yang terlalu birokratis), atau struktur organisasi yang terlalu kaku, serta tidak adanya kebijakan khusus bagi bagi pekerja.
Riggio (1995) mengungkapkan bahwa faktor-fakor yang menjadi stressor kerja adalah :
a. Stressor organisasional. Sumber stres organisasional ini dihasilkan dari adanya 1).Work overload, dimana stres akan terjadi ketika pekerjaan yang harus dilakukan membutuhkan kerja yang sangat cepat, output yang banyak dan konsentrasi yang berlebihan. 2). Underutilization. Underutilization merupakan suatu keadaan dimana seorang pekerja merasa tidak dapat menggunakan kemampuan yang dimilikinya yang berhubungan dengan pekerjaan, misalnya saja, lulusan sarjana yang bekerja pada bagian customer service atau sebagai seorang klerek mungkin akan merasakan stres karena mereka tidak bisa menggunakan kemampuan mereka dalam bekerja. 3). Ketidakpastian tugas. Ketidakpastian tugas merupakan sumber stres yang dihasilkan dari ambiguitas tugas pekerjaan, misalnya saja, tugas dan persayaratannya tidak didefinisikan secara jelas. Pada waktu pekerja tidak yakin dengan tanggungjawab mereka dan tugas-tugas yang harus dikerjakan, maka stres dapat muncul. Ketidakpastian pekerjaan yang bisa menghasilkan stres ini juga bisa dihasilkan dari kurangnya feedback regular terhadap performansi individu yang bersangkutan, seberapa baik atau burukkah hasil kinerja mereka. 4). Kondisi fisik di lingkungan kerja. Kondisi fisik di lingkungan kerja juga menyumbang pada munculnya stres kerja. Pekerjaan yang harus dilakukan pada temperatur yang ekstrem, suara yang bising, atau pencahayaan yang kurang atau ventilasi yang terbatas dapat mempengaruhi munculnya stres. Pekerjaan yang penuh bahaya yang menempatkan pekerja berada pada resiko kesehatan dan resiko hidup dapat juga menjadi penyebab stres.
b. Stressor yang berdasarkan pada hubungan. Salah satu sumber paling besar yang membuat stres kerja dihasilkan dari sulitnya hubungan interpersonal pada pekerjaan, yaitu stres interpersonal yang merupakan salah satu tipe stres dimana mungkin hampir semua pekerja mengalaminya. Stres interpersonal dipicu dari kesulitan dalam membangun dan memelihara hubungan dengan pekerja lain dalam setting pekerjaan. Pimpinan yang kasar dengan gaya manajemen yang menghukum akan juga menjadi sumber stres. Stres interpersonal juga bisa diakibatkan oleh rekan kerja dimana antara individu dan rekan kerjanya ditempatkan dalam situasi konflik yang serupa, misalnya, jika ada dua pekerja yang akan dipromosikan. Stres akan terjadi jika dua individu tersebut harus bekerjasama untuk berkompetisi meraih kehormatan promosi tersebut.
c. Perasaan kurangnya kontrol. Perasaan semacam ini umumnya terjadi pada pekerjaan di tingkat rendah sampai pada pekerjaan tingkat tinggi dalam suatu organisasi. Pekerjaan yang sangat kaku dan penuh dengan aturan dimana pekerja tidak mampu mendapatkan input dalam keputusan pekerjaan dan prosedur akan menghasilkan stres, khususnya bagi pekerja yang ingin mendapatkan input. Penelitian mengindikasikan bahwa pekerja yang mampu melakukan kontrol terhadap lingkungan pekerjaannya, dengan teknik-teknik seperti memberikan suara dalam proses pengambilan keputusan, akan berkurang stresnya dan meningkat kepuasan kerjanya.
d. Situasi yang berubah. Beberapa perubahan situasi yang mengakibatkan stres kerja meliputi reorganisasi perusahaan, merger dengan organisasi yang lain atau akusisi dengan perusahaan lain, berubahnya sistem kerja dan teknologi kerja, perubahan dalam kebijakan perusahaan, dan perubahan manajerial atau perubahan personel.
Terkait dengan subjek penelitian yaitu guru, Adams (1999) mengungkapkan delapan stressor yang sering muncul pada guru yaitu stressor yang berkaitan dengan faktor-faktor internal (individual), pedagogi, kurikulum, program sekolah, rekan sekerja, siswa, sistem yang diterapkan di sekolah, dan hubungan guru dengan masyarakat.
Iwanicki (dalam Adams, 1999) mengatakan bahwa persiapan guru dalam mengajar seringkali merupakan stressor. Kompetensi profesional yang dirasakan juga merupakan stressor bagi banyak guru (Fimian dan Santoro dalam Adams, 1999). Guru merasakan persiapan mengajar sebagai stressor dikarenakan cepatnya perubahan teknologi yang mengakibatkan munculnya rasa tidak mampu.
Menurut Cox (dalam Jarvis, 2002), ada dua faktor yang merupakan stressor bagi guru, yaitu faktor intrinsik untuk mengajar dan faktor sistemik yang beroperasi pada wilayah institusional maupun politik. Faktor intrinsik yang sering dianggap sebagai stressor adalah peran guru yang overload, lamanya jam kerja status guru yang dianggap rendah, rendahnya gaji, manajemen kelas, dan proses evaluasi pelajaran.
Faktor sistemik yang termasuk tingkat politis yang merupakan stressor bagi guru adalah kurangnya dukungan pemerintah terhadap guru, kurangnya informasi mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem pendidikan, dan perubahan serta tuntutan kurikulum yang merupakan stressor terbesar. Faktor sistemik yang termasuk tingkat institusional yang merupakan stressor adalah dukungan sosial antar rekan sekerja dan gaya kepemimpinan kepala sekolah.
Kyriacou (dalam Overland, 1999) dalam penelitiannya mengatakan bahwa ada enam macam stressor yang mempengaruhi stres pada guru yaitu, tekanan waktu, status guru yang rendah, ketidakdisiplinan siswa, kondisi lingkungan fisik kerja yang tidak nyaman, rendahnya motivasi belajar siswa, dan konflik dengan rekan sekerja.
Stressor kerja yang mengakibatkan munculnya stres kerja, berdasarkan uraian di atas disimpulkan berupa : a. Stressor konflik peran, berupa status guru yang dianggap rendah, dan peran ganda guru sebagai pendidik dan pengganti orang tua di sekolah; b. Stressor beban kerja, berupa, tuntutan kurikulum dengan materi yang begitu banyak, proses evaluasi belajar, dan manajemen kelas; c. Stressor hubungan, berupa hubungan dengan atasan, hubungan dengan rekan sekerja, hubungan dengan siswa, dan hubungan dengan orang tua siswa; d. Stressor lingkungan kerja, berupa sarana dan prasarana, lingkungan fisik sekolah, lingkungan masyarakat sekitar sekolah, sistem birokrasi, perkembangan teknologi, dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem pendidikan.
(Dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar