
Oleh : Nuzulia Avianto
Satu hal yang paling menjadi perhatian dari sebuah perusahaan adalah variabel outcome yang merupakan variabel yang paling krusial, yaitu performansi tugas, produktivitas, kualitas kerja dan lebih jauh lagi absensi dan turnover. Variabel-variabel tersebut secara langsung dapat mempengaruhi perolehan rupiah yang masuk ke pihak perusahaan (Riggio, 1990). Dalam perspektif karyawan, variabel outcome yang terpenting adalah kepuasan kerja, karena kepuasan kerja akan diikuti dengan meningkatnya produktivitas kerja, kualitas kerja, rendahnya tingkat absensi dan turnover (Riggio, 1990).
Menurut Riggio (1990), kepuasan kerja adalah suatu perasaan positif dan negatif serta sikap terhadap suatu pekerjaan, baik ataupun buruk, positif maupun negatif, semuanya akan memberikan kontribusi untuk mengembangkan perasaan puas atau tidak puas.
Menurut Gibson dkk. (1997) kepuasan kerja merupakan sikap yang dikembangkan para karyawan sepanjang waktu mengenai segi pekerjaannya. Sikap itu berasal dari persepsi karyawan tentang pekerjaannya. Kepuasan kerja berpangkal dari berbagai aspek kerja seperti upah, kesempatan promosi, penyelia (supervisor) dan rekan sekerja. Kepuasan kerja juga berasal dari faktor lingkungan kerja seperti gaya penyeliaan (supervisi), kebijakan dan prosedur perusahaan, keanggotaan kelompok kerja, kondisi kerja dan tunjangan.
Locke (dalam Cooper dan Robertson, 1986) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai suatu perasaan umum yang menyenangkan atau suatu keadaan emosi positif yang dihasilkan dari penilaian terhadap suatu pekerjaan maupun penilaian yang dihasilkan terhadap pengalaman kerja. Lebih lanjut Locke (dalam Cooper dan Robertson, 1986) mengasumsikan kepuasan kerja sebagai konstruksi global yang meliputi beberapa aspek spesifik dari kepuasan sebagai kepuasan terhadap kerja, upah, supervisi, tunjangan kesejahteraan, promosi, kesempatan, kondisi kerja, rekan kerja dan praktek organisasi.
Sama seperti pendapat sebelumnya, Carrell dkk. (1997) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai suatu sikap karyawan terhadap pekerjaannya, dalam hal ini variasi aspek yang terdapat dalam pekerjaan dan juga lingkungan pekerjaannya. Aspek-aspek tersebut antara lain adalah upah, promosi, kesempatan, supervisor, rekan kerja, gaya pengawasan, prosedur dan kebijakan perusahaan, kedekatan kelompok kerja dan tunjangan tambahan.
Menurut Cooper dan Robertson (1986) kepuasan kerja diasumsikan juga sebagai suatu sikap. Miner (1992) juga mengatakan bahwa kepuasan kerja secara umum mempunyai arti yang sepadan dengan sikap kerja. Dikemukakan juga bahwa sikap positif terhadap pekerjaan secara konseptual berarti kepuasan kerja dan sikap negatif terhadap pekerjaan berarti ketidakpuasan terhadap pekerjaan.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kepuasan kerja adalah sikap dan perasaan seseorang terhadap pekerjaan, situasi kerja dan kondisi kerja di lingkungan kerjanya yang merupakan hasil penilaian yang bersifat subjektif.
(Dari berbagai sumber)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar