Oleh : Nuzulia Avianto
Banyak faktor yang merupakan stressor kerja. Menurut Gibson dkk.(1996), ada empat macam stressor kerja , yaitu :
a. Stressor lingkungan fisik. Stressor ini sering disebut sebagai stressor kerah biru (blue-collar stressor) karena biasanya menjadi masalah bagi pekerjaan-pekerjaan kasar. Stressor kerja ini diantaranya adalah faktor cahaya, suara, suhu, dan udara yang terkena polusi.
b. Stressor individual. Stressor individual terdiri dari konflik peran, ambiguitas peran, beban kerja yang berlebihan, dan tanggungjawab pekerjaan. Konflik peran adalah stressor yang muncul dan akan semakin meningkat ketika seseorang menerima pesan-pesan yang tidak cocok berkenaan dengan perilaku yang sesuai, misalnya saja adanya tekanan untuk bergaul dengan orang-orang yang tidak sesuai dengan diri seseorang. Ambiguitas peran terjadi ketika tidak adanya pengetahuan seorang individu tentang hak, hak istimewa, dan kewajiban dari suatu pekerjaan. Beban kerja yang berlebihan bisa berupa beban kerja secara kuantitatif maupun kualitatif. Beban kerja yang bersifat kualitatif dirasakan individu ketika individu merasa tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan atau adanya tuntutan standar performansi kerja yang terlalu tinggi. Beban kerja yang bersifat kuantitatif adalah banyaknya sesuatu yang harus dikerjakan atau tidak cukupnya waktu yang diberikan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Tanggungjawab pekerjaan bisa menjadi beban kerja yang dapat menimbulkan stres kerja apabila tanggungjawab tersebut dirasakan terlalu besar bagi individu yang bersangkutan.
c. Stressor kelompok. Karakteristik kelompok dapat menjadi stressor yang kuat bagi individu-individu tertentu. Karakteristik kelompok yang mampu menjadi stressor antara lain adalah hubungan yang jelek antar anggota kelompok (antara atasan dengan bawahan maupun antar para bawahan) karena kurangnya kepercayaan antar anggota kelompok, rendahnya dukungan antar anggota kelompok, dan ketidakmampuan serta ketidakmauan anggota kelompok dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh anggota kelompok lainnya.
d. Stressor struktur organisasional. Hal-hal yang mengakibatkan kondisi emosional yang negatif adalah jeleknya struktur organisasi, misalnya struktur organisasi yang terlalu panjang (struktur yang terlalu birokratis), atau struktur organisasi yang terlalu kaku, serta tidak adanya kebijakan khusus bagi bagi pekerja.
Riggio (1995) mengungkapkan bahwa faktor-fakor yang menjadi stressor kerja adalah :
a. Stressor organisasional. Sumber stres organisasional ini dihasilkan dari adanya 1).Work overload, dimana stres akan terjadi ketika pekerjaan yang harus dilakukan membutuhkan kerja yang sangat cepat, output yang banyak dan konsentrasi yang berlebihan. 2). Underutilization. Underutilization merupakan suatu keadaan dimana seorang pekerja merasa tidak dapat menggunakan kemampuan yang dimilikinya yang berhubungan dengan pekerjaan, misalnya saja, lulusan sarjana yang bekerja pada bagian customer service atau sebagai seorang klerek mungkin akan merasakan stres karena mereka tidak bisa menggunakan kemampuan mereka dalam bekerja. 3). Ketidakpastian tugas. Ketidakpastian tugas merupakan sumber stres yang dihasilkan dari ambiguitas tugas pekerjaan, misalnya saja, tugas dan persayaratannya tidak didefinisikan secara jelas. Pada waktu pekerja tidak yakin dengan tanggungjawab mereka dan tugas-tugas yang harus dikerjakan, maka stres dapat muncul. Ketidakpastian pekerjaan yang bisa menghasilkan stres ini juga bisa dihasilkan dari kurangnya feedback regular terhadap performansi individu yang bersangkutan, seberapa baik atau burukkah hasil kinerja mereka. 4). Kondisi fisik di lingkungan kerja. Kondisi fisik di lingkungan kerja juga menyumbang pada munculnya stres kerja. Pekerjaan yang harus dilakukan pada temperatur yang ekstrem, suara yang bising, atau pencahayaan yang kurang atau ventilasi yang terbatas dapat mempengaruhi munculnya stres. Pekerjaan yang penuh bahaya yang menempatkan pekerja berada pada resiko kesehatan dan resiko hidup dapat juga menjadi penyebab stres.
b. Stressor yang berdasarkan pada hubungan. Salah satu sumber paling besar yang membuat stres kerja dihasilkan dari sulitnya hubungan interpersonal pada pekerjaan, yaitu stres interpersonal yang merupakan salah satu tipe stres dimana mungkin hampir semua pekerja mengalaminya. Stres interpersonal dipicu dari kesulitan dalam membangun dan memelihara hubungan dengan pekerja lain dalam setting pekerjaan. Pimpinan yang kasar dengan gaya manajemen yang menghukum akan juga menjadi sumber stres. Stres interpersonal juga bisa diakibatkan oleh rekan kerja dimana antara individu dan rekan kerjanya ditempatkan dalam situasi konflik yang serupa, misalnya, jika ada dua pekerja yang akan dipromosikan. Stres akan terjadi jika dua individu tersebut harus bekerjasama untuk berkompetisi meraih kehormatan promosi tersebut.
c. Perasaan kurangnya kontrol. Perasaan semacam ini umumnya terjadi pada pekerjaan di tingkat rendah sampai pada pekerjaan tingkat tinggi dalam suatu organisasi. Pekerjaan yang sangat kaku dan penuh dengan aturan dimana pekerja tidak mampu mendapatkan input dalam keputusan pekerjaan dan prosedur akan menghasilkan stres, khususnya bagi pekerja yang ingin mendapatkan input. Penelitian mengindikasikan bahwa pekerja yang mampu melakukan kontrol terhadap lingkungan pekerjaannya, dengan teknik-teknik seperti memberikan suara dalam proses pengambilan keputusan, akan berkurang stresnya dan meningkat kepuasan kerjanya.
d. Situasi yang berubah. Beberapa perubahan situasi yang mengakibatkan stres kerja meliputi reorganisasi perusahaan, merger dengan organisasi yang lain atau akusisi dengan perusahaan lain, berubahnya sistem kerja dan teknologi kerja, perubahan dalam kebijakan perusahaan, dan perubahan manajerial atau perubahan personel.
Terkait dengan subjek penelitian yaitu guru, Adams (1999) mengungkapkan delapan stressor yang sering muncul pada guru yaitu stressor yang berkaitan dengan faktor-faktor internal (individual), pedagogi, kurikulum, program sekolah, rekan sekerja, siswa, sistem yang diterapkan di sekolah, dan hubungan guru dengan masyarakat.
Iwanicki (dalam Adams, 1999) mengatakan bahwa persiapan guru dalam mengajar seringkali merupakan stressor. Kompetensi profesional yang dirasakan juga merupakan stressor bagi banyak guru (Fimian dan Santoro dalam Adams, 1999). Guru merasakan persiapan mengajar sebagai stressor dikarenakan cepatnya perubahan teknologi yang mengakibatkan munculnya rasa tidak mampu.
Menurut Cox (dalam Jarvis, 2002), ada dua faktor yang merupakan stressor bagi guru, yaitu faktor intrinsik untuk mengajar dan faktor sistemik yang beroperasi pada wilayah institusional maupun politik. Faktor intrinsik yang sering dianggap sebagai stressor adalah peran guru yang overload, lamanya jam kerja status guru yang dianggap rendah, rendahnya gaji, manajemen kelas, dan proses evaluasi pelajaran.
Faktor sistemik yang termasuk tingkat politis yang merupakan stressor bagi guru adalah kurangnya dukungan pemerintah terhadap guru, kurangnya informasi mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem pendidikan, dan perubahan serta tuntutan kurikulum yang merupakan stressor terbesar. Faktor sistemik yang termasuk tingkat institusional yang merupakan stressor adalah dukungan sosial antar rekan sekerja dan gaya kepemimpinan kepala sekolah.
Kyriacou (dalam Overland, 1999) dalam penelitiannya mengatakan bahwa ada enam macam stressor yang mempengaruhi stres pada guru yaitu, tekanan waktu, status guru yang rendah, ketidakdisiplinan siswa, kondisi lingkungan fisik kerja yang tidak nyaman, rendahnya motivasi belajar siswa, dan konflik dengan rekan sekerja.
Stressor kerja yang mengakibatkan munculnya stres kerja, berdasarkan uraian di atas disimpulkan berupa : a. Stressor konflik peran, berupa status guru yang dianggap rendah, dan peran ganda guru sebagai pendidik dan pengganti orang tua di sekolah; b. Stressor beban kerja, berupa, tuntutan kurikulum dengan materi yang begitu banyak, proses evaluasi belajar, dan manajemen kelas; c. Stressor hubungan, berupa hubungan dengan atasan, hubungan dengan rekan sekerja, hubungan dengan siswa, dan hubungan dengan orang tua siswa; d. Stressor lingkungan kerja, berupa sarana dan prasarana, lingkungan fisik sekolah, lingkungan masyarakat sekitar sekolah, sistem birokrasi, perkembangan teknologi, dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem pendidikan.
(Dari berbagai sumber)
Jumat, 26 Juni 2009
GEJALA-GEJALA STRES KERJA
Oleh : Nuzulia Avianto
Ada beberapa macam gejala yang ditunjukkan ketika seseorang mengalami stres kerja, namun demikian gejala-gejala stres kerja tidak muncul dalam waktu yang bersamaan. Kadang-kadang kemunculannya bersifat kumulatif, artinya, sebenarnya gejala tersebut sudah muncul dalam waktu yang cukup lama tetapi tidak terdeteksi jika tidak tampak perilaku tertentu. Beehr dan Newman (dalam Rice, 1992), mengelompokkan gejala-gejala stres kerja dalam tiga bagian, yaitu gejala fisik, gejala psikis, dan gejala perilaku.
a. Gejala-gejala fisik. Termasuk dalam gejala-gejala fisik diantaranya adalah : detak jantung dan tekanan darah yang meningkat; sekresi adrenalin dan noradrenalin yang meningkat; muncul gangguan perut; timbul kelelahan fisik; kematian; munculnya penyakit kardiovaskuler; muncul masalah respirasi; keluar keringat berlebihan; adanya gangguan kulit; sakit kepala; kanker; dan gangguan tidur.
b. Gejala-gejala psikis. Termasuk dalam gejala-gejala psikis diantaranya adalah : timbul kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung; perasaan frustrasi, marah dan kesal; emosi menjadi sensitif dan hiperaktif; perasaan menjadi tertekan; kemampuan berkomunikasi secara efektif menurun; menarik diri dan depresi; merasa terisolir dan terasing; bosan dan mengalami ketidakpuasan dalam bekerja; muncul kelelahan mental dan menurunnya fungsi intelektual; kemampuan konsentrasi berkurang; spontanitas dan kreativitas menghilang; serta menurunnya haga diri.
c. Gejala-gejala perilaku. Termasuk dalam gejala-gejala perilaku adalah : bermalas-malasan dan berupaya menghindari pekerjaan; kinerja dan produktivitas kerja menurun; ketergantungan pada alkohol meningkat; melakukan sabotase pada pekerjaan; makan berlebihan sebagai upaya pelarian diri dari masalah; mengurangi makan sebagai bentuk perilaku penarikan diri dan mungkin berkombinasi dengan depresi; kehilangan selera makan dan menurunnya berat badan; meningkatnya perilaku beresiko tinggi; agresif; hubungan yang tidak harmonis dengan teman dan keluarga; dan kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.
Gejala stres kerja, berdasarkan uraian di atas, merupakan gejala komplek yang meliputi gejala fisik, psikis, dan gejala perilaku.
(Dari berbagai sumber)
Ada beberapa macam gejala yang ditunjukkan ketika seseorang mengalami stres kerja, namun demikian gejala-gejala stres kerja tidak muncul dalam waktu yang bersamaan. Kadang-kadang kemunculannya bersifat kumulatif, artinya, sebenarnya gejala tersebut sudah muncul dalam waktu yang cukup lama tetapi tidak terdeteksi jika tidak tampak perilaku tertentu. Beehr dan Newman (dalam Rice, 1992), mengelompokkan gejala-gejala stres kerja dalam tiga bagian, yaitu gejala fisik, gejala psikis, dan gejala perilaku.
a. Gejala-gejala fisik. Termasuk dalam gejala-gejala fisik diantaranya adalah : detak jantung dan tekanan darah yang meningkat; sekresi adrenalin dan noradrenalin yang meningkat; muncul gangguan perut; timbul kelelahan fisik; kematian; munculnya penyakit kardiovaskuler; muncul masalah respirasi; keluar keringat berlebihan; adanya gangguan kulit; sakit kepala; kanker; dan gangguan tidur.
b. Gejala-gejala psikis. Termasuk dalam gejala-gejala psikis diantaranya adalah : timbul kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung; perasaan frustrasi, marah dan kesal; emosi menjadi sensitif dan hiperaktif; perasaan menjadi tertekan; kemampuan berkomunikasi secara efektif menurun; menarik diri dan depresi; merasa terisolir dan terasing; bosan dan mengalami ketidakpuasan dalam bekerja; muncul kelelahan mental dan menurunnya fungsi intelektual; kemampuan konsentrasi berkurang; spontanitas dan kreativitas menghilang; serta menurunnya haga diri.
c. Gejala-gejala perilaku. Termasuk dalam gejala-gejala perilaku adalah : bermalas-malasan dan berupaya menghindari pekerjaan; kinerja dan produktivitas kerja menurun; ketergantungan pada alkohol meningkat; melakukan sabotase pada pekerjaan; makan berlebihan sebagai upaya pelarian diri dari masalah; mengurangi makan sebagai bentuk perilaku penarikan diri dan mungkin berkombinasi dengan depresi; kehilangan selera makan dan menurunnya berat badan; meningkatnya perilaku beresiko tinggi; agresif; hubungan yang tidak harmonis dengan teman dan keluarga; dan kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.
Gejala stres kerja, berdasarkan uraian di atas, merupakan gejala komplek yang meliputi gejala fisik, psikis, dan gejala perilaku.
(Dari berbagai sumber)
PROSES TERJADINYA STRES KERJA

Oleh : Nuzulia Avianto
Ada beberapa pendekatan untuk menjelaskan bagaimana proses terjadinya stres kerja. Dalam penelitian ini digunakan gabungan antara The General Adaptation Syndrome Model (Model Sindrom Adaptasi Umum) dari Selye (dalam Berry, 1998) dan Theoretical Schematization of the Stres Process dari Lazarus (dalam Dunnet, 1998). Selye mengkonseptualisasikan adanya tanggapan fisiologis terhadap stres. Selye beranggapan stres merupakan tanggapan yang bersifat nonspesifik terhadap setiap tuntutan yang dikenakan pada seseorang, akan muncul reaksi dari semua organisme yang dikenai tuntutan dan muncul reaksi pertahanan tiga fase yang akan dilakukan oleh organisme yang bersangkutan ketika muncul stres. Selye menyebut proses tersebut sebagai general adaptation syndrom (sindrom penyesuaian umum).
Reaksi pertahanan umum karena stres menurut Selye akan berdampak pada berbagai anggota badan yang merupakan tanggapan dari adanya rangsangan dari pertahanan yang diciptakan untuk membantu tubuh atau badan organisme menyesuaikan diri pada penyebab stres atau membantu organisme untuk menghadapi hal-hal yang menimbulkan stres. Kata sindrom menunjukkan bahwa bagian reaksi yang sifatnya individual tersebut terjadi hampir bersamaan. Fase-fase reaksi organisme terhadap stres, dalam model Selye dibagi tiga, yaitu fase sinyal (alarm), fase perlawanan (resistance), dan fase kelelahan (exhaustion).
Fase pertama yaitu fase sinyal akan mempengaruhi tejadinya perubahan pada badan. Fase sinyal merupakan mobilisasi awal ketika badan menemui tantangan yang diakibatkan oleh stressor. Pada waktu stressor berhasil diidentifikasi, otak akan mengirimkan pesan yang bersifat biokimia kepada semua sistem dalam tubuh, akibatnya pernafasan akan meningkat, tekanan darah naik, pupil mata membesar, otot menjadi tegang, dan gejala-gejala fisiologis lainnya. Dengan kata lain, pada fase ini badan menunjukkan perubahan karakteristik karena adanya stressor. Ketahanan badan pada waktu yang sama juga akan menurun. Contoh pada fase ini adalah ketika ada suatu permintaan oleh seorang manajer untuk mengajukan anggaran dalam waktu yang sangat terbatas.
Stressor yang masih terus aktif dan tidak bisa ditanggulangi akan membuat sindrom penyesuaian umum meningkat ke fase kedua, yaitu fase perlawanan. Gejala-gejala peralihan dari fase sinyal ke fase perlawanan adalah munculnya keletihan, ketakutan, ketegangan, atau kemarahan. Individu yang berada dalam fase ini sedang berupaya untuk melakukan perlawanan terhadap stressor yang mengenainya. Dalam fase ini dimungkinkan stressor khusus mendapat perlawanan yang lebih tinggi dibandingkan stressor lain. Hal ini diakibatkan karena individu hanya mempunyai sumber energi yang terbatas, konsentrasi yang terbatas, dan keterbatasan kemampuan untuk menghadapi stressor. Individu dalam fase ini akan lebih mudah terserang sakit selama periode terjadinya stres. Contoh fase ini adalah menjadi marah pada suatu pertemuan karena anggaran masih belum dapat diselesaikan.
Fase terakhir atau fase ketiga dari Sindrom Penyesuaian Umum adalah fase keletihan. Pada fase kedua, ketahanan naik di atas normal. Pada fase ketiga, karena terus menerus terkena stressor yang sama maka badan akhirnya berusaha menyesuaikan diri, dengan kata lain energi adaptasi dikeluarkan. Sistem penyerangan terhadap stressor berangsur-angsur menjadi lelah. Contoh fase ini adalah munculnya gangguan insomnia, maupun keletihan total secara fisik maupun psikis.
Kesimpulannya, ketika individu sudah melalui ketiga fase dalam Sindrom Adaptasi Umum tersebut, maka individu akan berakhir pada suatu keadaan ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessnes). Individu yang terus menerus terkena stressor tadi pada akhirnya akan menganggap bahwa stressor yang muncul merupakan hal yang mau tidak mau harus diterima sehingga tidak ada lagi perlawanan yang dilakukan untuk mengatasi atau menghindari stressor. Implementasi di tempat kerja, stressor secara terus menerus akan menimbulkan suatu keadaan “pasrah” dimana individu menerima tanpa ada usaha untuk menghindari stressor.
Lazarus (Lazarus dan Folkman, dalam Dunet, 1998), dalam teori yang disusunnya yaitu Schematization of the Stres Procesess Theory yang sering disebut juga teori Stres Kognitif-Phenomenologis menekankan pada kondisi kronis eksternal. Kondisi ini atau disebut juga daily hassles dipandang sebagai stressor dan pada faktor kognitif yang menjadi variabel intervensi antara peristiwa-peristiwa eksternal dan fisiologis jangka pendek, emosional, dan konsekuensi perilaku yang sangat penting.
Teori Stres Lazarus mencoba mendefinisikan stres sebagai hubungan yang mengalami gangguan antara person dan environment dimana lingkungan memberikan banyak tuntutan, ketegangan, atau kesempatan yang dinilai membebani atau melebihi kemampuan yang dimiliki oleh person.
Hubungan antara person dan environment dimediatori oleh tiga tipe penilaian kognitif yaitu, primary appraisal, secondary appraisal, dan reappraisal. Primary appraisal merupakan proses dimana individu melakukan evaluasi terhadap keadaan lingkungan dan menghadapi keadaan lingkungan dengan kondisi well-being yang dimiliki. Penilaian dalam tahap ini (primary appaisal) mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti “Aku baik-baik saja atau sedang dalam masalah ?”. Secondary appraisal memunculkan pertanyaan yang berhubungan dengan coping seperti, “Apa yang bisa aku lakukan untuk menghadapi keadaan penuh stres ini ?”. Reappraisal merupakan siklus lain yang diaktifkan oleh informasi baru, misalnya informasi tentang apakah upaya pertama yang dilakukan oleh individu yang menghadapi tekanan lingkungan berhasil melakukan coping yang efektif atau justru mengalami kegagalan.
Teori Lazarus mengatakan, ketika dalam primary appraisal individu menilai bahwa keadaan lingkungan mengancam maka potensi terjadinya stres akan lebih tinggi dibandingkan ketika individu menilai keadaan lingkungan tidak mengancam eksistensi personalnya. Individu dalam secondary appraisal mulai menilai kemampuannya dalam menghadapi masalah, apabila individu menilai dirinya tidak mampu menghadapi masalah maka potensi stres akan lebih tinggi. Individu yang melakukan reappraisal dan menemukan dirinya gagal dalam upaya coping akan mengalami kondisi penuh stres. Kondisi tersebut akan mengakibatkan efek tengah (immediate effect) dan efek jangka pajang yang bersifat negatif, sebaliknya, apabila individu mampu melakukan reappraisal yang positif maka efeknya juga akan positif.
Penelitian ini menggunakan dua perspektif yang sudah djelaskan di atas, yaitu General Adaptive Syndrom Model dan Teori Schematization in the Stres Process. Kedua teori ini digunakan karena pada dasarnya kedua teori tersebut mempunyai perspektif yang sama. Proses awal terjadinya stres dipengaruhi oleh anteseden-anteseden yang terdiri dari variabel person maupun environment sebagaimana dijelaskan dalam teori Lazarus dan Selye. Selanjutnya terjadi proses penilaian yang melibatkan primary appraisal, secondary appraisal, dan reappraisal, dan selama proses penilaian tersebut berakhir, terjadi general adaptif syndrom.
Proses terjadinya stres, berdasarkan kedua teori di atas, tidak terlepas dari cara pandang individu yang bersangkutan yang akan menghasilkan penilaian kognitif yang berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Perbedaan cara pandang tersebut mempengaruhi fase selanjutnya, yaitu apakah individu akhirnya mengalami stres atau tidak. Selain itu, semua individu juga akan mengalami reaksi yang sama sebagaimana dijelaskan dalam General Adaptive Syndrom apabila stres tidak cepat tertanggulangi.
STRES KERJA

Oleh : Nuzulia Avianto
Stres bisa juga diartikan sebagai tekanan, ketegangan, atau gangguan tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang. Robins (1998), sama dengan pendapat di atas mengatakan bahwa stres merupakan keadaan dinamik disaat seseorang dihadapkan pada suatu pilihan. Pilihan tersebut berupa kendala yang merupakan kekuatan untuk mencegah individu melakukan hal yang sangat diinginkan, atau tuntutan yang merupakan hilangnya sesuatu yang sangat diinginkan individu. Kendala dan tuntutan tersebut dihubungkan dengan kebutuhan dan keinginan individu kemudian hasilnya dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak pasti serta penting.
Stres akan muncul dalam tingkat tinggi apabila individu merasa tidak pasti apakah akan berhasil atau tidak berhasil mencapai yang diinginkan. Stres akan muncul dalam tingkat yang rendah apabila individu sudah mempunyai pengetahuan bahwa berhasil atau tidak berhasil tercapainya suatu tujuan, atau kekalahan dan kemenangan untuk mencapai hasil yang diinginkan merupakan suatu kepastian, tetapi apabila tujuan itu tidak penting bagi individu, maka tidak ada stres.
Stres kerja merupakan interaksi komplek antara individu dengan lingkungan pekerjaan. Stres kerja menurut Tyrer (1980) merupakan suatu keadaan yang sifatnya menekan dan memaksa seseorang untuk melakukan tindakan dan berpikir lebih cepat serta lebih intensif daripada yang diingini oleh individu yang bersangkutan. Keadaan tersebut mampu menyebabkan reaksi fisik serta reaksi psikis karena adanya perubahan-perubahan yang dialami. Stres kerja, dalam hal ini, akan sangat tergantung pada penyesuaian diri masing-masing individu. Individu yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan kondisi pekerjaan yang dihadapi akan mengalami stres kerja, sedangkan individu yang mampu menghadapi keadaan yang menimpanya dengan cara yang lebih baik maka tingkat stres kerjanya juga lebih rendah.
Stres kerja menurut Schuler (1979) merupakan suatu keadaan ketika faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan saling mempengaruhi dan mengubah keadaan psikologis atau fisiologis pekerja. Stres kerja bisa bersifat potensial atau juga bersifat nyata. Stres kerja dikatakan bersifat potensial apabila stres tersebut merupakan interaksi antara karyawan dengan lingkungan. Stres kerja dikatakan nyata apabila individu benar-benar bereaksi terhadap keadaan tersebut, Rodin dan Salovely (1989) mengemukakan bahwa stres kerja merupakan situasi ketika individu yang bekerja dihadapkan pada bermacam-macam tuntutan tetapi individu tersebut hanya punya sedikit kemampuan dan kontrol. Pengertian yang sama diungkapkan oleh Riggio (1990) yang mengatakan bahwa stres kerja merupakan suatu keadaan penuh tekanan yang diakibatkan karena peristiwa dalam lingkungan pekerjaan. Menurut Berry (1998), stres kerja merupakan respon tubuh yang muncul karena stressor kerja. Pekerjaan-pekerjaan tertentu umumnya dirasakan menjadikan munculnya stres kerja. Stres kerja akan muncul tergantung pada situasi atau kondisi yang ada.
Stres kerja, berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan sebagai suatu keadaan yang bersifat potensial maupun nyata yang penuh dengan tekanan dan melibatkan tuntutan fisik, psikologis, serta perilaku yang diakibatkan karena peristiwa atau kondisi dalam lingkungan pekerjaan yang sifatnya relatif karena dipengaruhi oleh penyesuaian diri individu.
(Dari berbagai sumber)
KEPUASAN KERJA

Oleh : Nuzulia Avianto
Satu hal yang paling menjadi perhatian dari sebuah perusahaan adalah variabel outcome yang merupakan variabel yang paling krusial, yaitu performansi tugas, produktivitas, kualitas kerja dan lebih jauh lagi absensi dan turnover. Variabel-variabel tersebut secara langsung dapat mempengaruhi perolehan rupiah yang masuk ke pihak perusahaan (Riggio, 1990). Dalam perspektif karyawan, variabel outcome yang terpenting adalah kepuasan kerja, karena kepuasan kerja akan diikuti dengan meningkatnya produktivitas kerja, kualitas kerja, rendahnya tingkat absensi dan turnover (Riggio, 1990).
Menurut Riggio (1990), kepuasan kerja adalah suatu perasaan positif dan negatif serta sikap terhadap suatu pekerjaan, baik ataupun buruk, positif maupun negatif, semuanya akan memberikan kontribusi untuk mengembangkan perasaan puas atau tidak puas.
Menurut Gibson dkk. (1997) kepuasan kerja merupakan sikap yang dikembangkan para karyawan sepanjang waktu mengenai segi pekerjaannya. Sikap itu berasal dari persepsi karyawan tentang pekerjaannya. Kepuasan kerja berpangkal dari berbagai aspek kerja seperti upah, kesempatan promosi, penyelia (supervisor) dan rekan sekerja. Kepuasan kerja juga berasal dari faktor lingkungan kerja seperti gaya penyeliaan (supervisi), kebijakan dan prosedur perusahaan, keanggotaan kelompok kerja, kondisi kerja dan tunjangan.
Locke (dalam Cooper dan Robertson, 1986) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai suatu perasaan umum yang menyenangkan atau suatu keadaan emosi positif yang dihasilkan dari penilaian terhadap suatu pekerjaan maupun penilaian yang dihasilkan terhadap pengalaman kerja. Lebih lanjut Locke (dalam Cooper dan Robertson, 1986) mengasumsikan kepuasan kerja sebagai konstruksi global yang meliputi beberapa aspek spesifik dari kepuasan sebagai kepuasan terhadap kerja, upah, supervisi, tunjangan kesejahteraan, promosi, kesempatan, kondisi kerja, rekan kerja dan praktek organisasi.
Sama seperti pendapat sebelumnya, Carrell dkk. (1997) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai suatu sikap karyawan terhadap pekerjaannya, dalam hal ini variasi aspek yang terdapat dalam pekerjaan dan juga lingkungan pekerjaannya. Aspek-aspek tersebut antara lain adalah upah, promosi, kesempatan, supervisor, rekan kerja, gaya pengawasan, prosedur dan kebijakan perusahaan, kedekatan kelompok kerja dan tunjangan tambahan.
Menurut Cooper dan Robertson (1986) kepuasan kerja diasumsikan juga sebagai suatu sikap. Miner (1992) juga mengatakan bahwa kepuasan kerja secara umum mempunyai arti yang sepadan dengan sikap kerja. Dikemukakan juga bahwa sikap positif terhadap pekerjaan secara konseptual berarti kepuasan kerja dan sikap negatif terhadap pekerjaan berarti ketidakpuasan terhadap pekerjaan.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kepuasan kerja adalah sikap dan perasaan seseorang terhadap pekerjaan, situasi kerja dan kondisi kerja di lingkungan kerjanya yang merupakan hasil penilaian yang bersifat subjektif.
(Dari berbagai sumber)
Langganan:
Komentar (Atom)